Business Continuity Plan VS Disaster Recovery Plan

Business Continuity Plan VS Disaster Recovery Plan

Business Continuity Plan memastikan orang memiliki tempat untuk bekerja ketika lokasi utama mereka menjadi tidak dapat digunakan baik untuk sementara ataupun permanen.  Business Continuity Plan harus menjabarkan fungsi-fungsi bisnis yang krusial, mengidentifikasi sistem secara detail, proses yang harus terus beroperasi, dan menentukan cara untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Disaster Recovery Plan adalah istilah luas yang menggambarkan proses untuk memulihkan sistem, jaringan, dan aset penting TI lainnya yang digunakan organisasi. Memiliki rencana DR adalah faktor penting ketika merencanakan pemulihan organisasi Anda dari bencana apa pun.

Perusahaan dapat membuat situs internal yang dimiliki dan dikelolanya, atau situs eksternal melalui cloud atau penyedia layanan. Organisasi yang membutuhkan data kembali dengan cepat sering memilih situs internal, biasanya pusat data kedua yang memungkinkan dimulainya kembali bisnis dengan cepat. Namun, opsi pemulihan bencana berbasis cloud semakin menawarkan waktu respons cepat untuk memenuhi tujuan waktu pemulihan yang ketat.

Site DR eksternal dapat menjadi Hot, Warm, atau Cold.

  1. HOT Site adalah sebuah Data Center yang berfungsi penuh yang dapat dipindahkan oleh perusahaan jika terjadi bencana di Primary Data Center.
  2. WARM Site adalah sebuah Data Center yang memiliki peralatan, tetapi bukan data. Organisasi harus menambahkan data pelanggan – dan seringkali perangkat keras dan lunak – setelah bencana terjadi.
  3. COLD Site memiliki infrastruktur TI, tetapi tidak ada peralatan sampai bencana terjadi. Site ini untuk organisasi atau workload tertentu yang dapat menunggu untuk waktu yang lama untuk bangkit kembali dan berjalan.

Suatu organisasi dapat menggunakan beberapa jenis site, menempatkan aplikasi dan data yang paling penting di Hot Site  dan sistem yang kurang penting di Warm dan Cold Site.

Salah satu bidang utama yang harus dievaluasi selama pengujian adalah RTO dan RPO untuk menjaga downtime seminimal mungkin. Tes ini memberikan peluang untuk memperbaiki masalah sebelum bencana terjadi.

Apabila Strategi pengujian Disaster Recovery ini diberlakukan dengan baik, niscaya perusahaan atau organisasi akan mempunyai kepercayaan terhadap DR Plan yang sudah ada.