Konsistensi Data Disaster Recovery

Idealnya, ketika platform untuk hybrid cloud mengalami masalah, proses akan mengalami kelambatan dan kemudian akan berfungsi normal kembali secara otomatis ketika platform lain berfungsi, atau jika pada public cloud maka beban kerja system akan berpindah ke cluster cloud lain yang tersedia.

Transfer data antara platform cloud yang satu dengan yang lain biasanya memakan waktu yang lama, khususnya untuk data yang besar. Misalnya, replikasi data antara dua tempat penyimpanan data lokal memakan waktu beberapa mili detik, sedangkan ketika replikasi data ke tiga tempat penyimpanan data lain akan memakan waktu sekitar 10 detik.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan metoda pengecekan konsistensi pada komputasi terdistribusi (eventual consistency) untuk replikasi jarak jauh. Tetapi hal ini akan memakan waktu antara beberapa menit sampai beberapa jam ketika data tidak sinkron. Skenario hybrid cloud backup dan DR bergantung pada tujuan dari replikasi jarak jauh. Provider cloud yang meng-hosting segment yang masih beroperasi harus memastikan konsistensi datanya. Namun, untuk data di data center customer, menjadi tanggung jawab customer untuk memastikan konsistensi datanya.

 

Best practice dalam memastikan konsistensi data

Managemen data menjadi lebih kompleks dengan hybrid cloud back up dan Disaster Recovery karena user dapat menyimpan data baik di public cloud maupun di private cloud. Misalnya, bagaimana cara untuk menghindari perbedaan antara backup dan arsip data. Kita harus tahu data mana yang berubah dan data mana yang baru. Membuat file jurnal backup akan bermanfaat tetapi rentan terhadap outage yang mungkin menyebabkan data tidak terkirim ke platform hybrid cloud yang lain. Tetapi, dengan desain yang baik dan pengiriman data dengan lebih sering akan menurunkan waktu titik pemulihan (RPO).

Ketika menggunakan public cloud, kompleksitas menjadi lebih sulit. Pastikan cloud service provider mempunyai perlindungan data yang mirip dengan yang kita miliki. Cloud provider biasanya tidak terbuka terhadap infrastruktur yang dimilikinya, tapi sangatlah penting mengetahui bagaimana cara mereka melindungi konsistensi data. Akan ada perbedaan yang besar antara sinkronisasi antara cluster dengan akses dalam lingkungan hybrid.

Dalam lingkungan hybrid, disarankan untuk mempunyai aplikasi untuk mengirimkan jurnal backup ke cloud lain atau ke seqment private yang lain. Masalah ini mungkin akan hilang sejalan dengan makin populernya hybrid cloud dan penyimpanan objek data ke segmen segmen yang berbeda.

 

Ambil tindakan pencegahan

Pembatasan akses beberapa user secara bersamaan dalam meng-update data ke semua segment cloud dapat membantu mencegah hasil yang tidak diinginkan. Untuk membuat satu data yang konsisten, buatlah sebuah copy data ter-update yang bisa digunakan untuk me-restore saat terjadi kegagalan (point-in-time snapshot) di semua segment cloud.

Biasanya, snapshot akan mempunyai data perubahan secara berurutan saat terjadi perubahan data, tapi snapshot tersebut bisa dipulihkan secara langsung ke titik perubahan data yang diinginkan. Bisa juga digunakan data sementara untuk keperluan development atau untuk keperluan backup. Buatlah data ini di semua segment cloud, tapi jangan lupa bahwa VM di cloud bisa jadi berbeda performansi dan kecepatan storage. Ada perbedaan antar cloud service provider dalam hal performansi dan kecepatan storage. Tanpa adanya beberapa penyesuaian setting, backup data bisa menjadi lambat dan mungkin menggangu waktu backup.

Dengan beberapa pendekatan ini, sangat mememungkinkan untuk mendapatkan RPO yang rendah pada hybrid cloud backup dan Disaster Recovery. Pemulihan secara otomatis tidak memungkinkan untuk saat ini, tetapi di masa mendatang hal ini menjadi salah satu fitur yang akan ditawarkan oleh cloud service provider.

source : Disaster Recovery in the age of the Cloud, ComputerWeekly.com 

  • One Click Disaster Recovery
    Bencana yang dapat menimpa proses bisnis hampir tidak ada habisnya, mulai dari kebakaran, banjir, angin topan, gempa bumi hingga serangan hacker. Bencana tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa di prediksi …
  • RTO & RPO – Parameter Penting untuk Memastikan DR Berhasil Memproteksi Data Anda
    RTO adalah Recovery Time Objective merupakan maksimum waktu yang dapat ditoleransi untuk komputer, sistem, jaringan, atau aplikasi dalam keadaan mati setelah terjadi kegagalan atau bencana. RTO mempengaruhi berapa lama waktu …
  • Perbandingan Teknis Zerto dengan Veeam
    Zerto Virtual Replication (ZVR) adalah platform ketahanan IT pertama yang memberikan solusi untuk disaster recovery, perlindungan data dan mobilitas beban kerja untuk, dari, ataupun beberapa platform cloud.  Dengan melakukan kombinasi terhadap …
  • Business Continuity Plan VS Disaster Recovery Plan
    Ingin tahu rahasia bisnis tetap berjalan meski diterpa bencana? Business Continuity Plan memastikan orang memiliki tempat untuk bekerja ketika lokasi utama mereka menjadi tidak dapat digunakan baik untuk sementara ataupun …
  • Pentingnya Testing DR Plan
    Anda dan perusahaan Anda sudah membuat sebuah DR Plan yang mencakup banyak hal. Dari bencana alam sampai serangan Ransomware. Artinya pekerjaan Anda sudah selesai bukan? Tidak secepat itu. Dengan begitu …