Microservices adalah dan Perbedaannya dengan Monolithic Architecture

Architecture Microservice vs Monolithic, modernizing application by leveraging container & Kubernetes technology

Memanfaatkan Teknologi Microservice & Container untuk memodernisasi aplikasi menuju Cloud Native Arsitektur di Era Digital.

Microservices adalah suatu framework Architecture yang dipakai sebagai model dalam pembuatan aplikasi cloud yang modern. Di dalam microservices setiap aplikasi di bangun sebagai sekumpulan service dan setiap layanan berjalan dalam processnya sendiri. Masing-masing dari aplikasi tersebut saling berkomunikasi melalu API (Application Programing Interface).

Microservices merupakan Architecture dalam pembangunan aplikasi cloud yang modern. Architecture microservices bersifat terdistribusi, sehingga perubahan pada program yang di lakukan oleh satu tim developer tidak menganggu keseluruhan aplikasi.

Manfaat utama dalam mempergunakan microservices adalah agar team developer mampu mengembangkan aplikasi secara cepat dengan membuat komponen-komponen dari aplikasi berjalan secara independen sehingga dapat memenuhi kebutuhan bisnis yang terus menerus berubah.

Cara pembangunan aplikasi yang seperti ini dioptimalkan dengan mempergunakan DevOps (Development and Operation) dan CI / CD (Continuous Integration and Continuous Delivery)

Apa yang membedakan Architecture Microservices dengan pendekatan yang lebih tradisional seperti Monolithic Architecture adalah bagaimana framework ini memecah aplikasi menjadi fungsi intinya. Setiap fungsi ini disebut sebagai service, dapat dibangun dan dijalankan secara independen, yang berarti service tersebut dapat berfungsi (dan gagal) tanpa berdampak negatif pada fungsi-fungsi yang lain.

Framework ini membantu dalam sisi teknologi dari DevOps dalam pelaksanaan continuous integration dan continuous delivery (CI / CD) sehingga menjadi lebih mulus dan dapat tercapai.

Microservice adalah vs Monolithic architecture, modernizing application leveraging container & Kubernetes technology

Monolithic Architecture

Untuk memahami keunggulan Microservice Architecture yang terkini, sangat penting untuk memahami dari mana semuanya dimulai. Awalnya setiap aplikasi yang berada di satu server, terdiri dari tiga lapisan:

  • Presentasi – User Interface
  • Aplikasi / logika bisnis
  • Database – Data Access Layer

Layer-layer ini dibuat dalam satu stack yang saling terkait dan terletak di satu server Monolithic di datacenter. Pola ini umumnya ada di setiap industry vertikal dan dalam Architecture teknologi. Secara umum, aplikasi adalah kumpulan modul programming code yang melayani fungsi tertentu — misalnya, database, berbagai jenis logika bisnis, kode rendering grafik, atau logging.

Dalam Monolithic Architecture ini, user berinteraksi dengan layer presentasi, yang berbicara dengan layer logika bisnis dan kemudian dengan layer database, dan informasi atau data yang dicari, kemudian melakukan perjalanan kembali ke layer tersebut tersebut untuk mencapai ke pengguna di layer teratas.

Meskipun ini adalah cara yang efisien untuk menjalankan aplikasi, hal ini menciptakan banyak titik kegagalan yang dapat mengakibatkan system down yang lama pada saat terjadi kegagalan pada perangkat keras atau bug code.

Sayangnya, “self-healing” tidak ada dalam struktur ini. Jika ada bagian dari sistem yang rusak, maka perlu dilakukan perbaikan dengan campur tangan manusia dalam bentuk perbaikan perangkat keras atau perangkat lunak.

Untuk melakukan scale-up salah satu dari layer ini berarti membeli server baru. Anda harus membeli aplikasi Monolithic yang berjalan di satu server dan mensegmentasi sebagian pengguna ke sistem baru. Segmentasi ini menghasilkan data silo ke pengguna yang harus direkonsiliasi dengan laporan batch setiap malam. Untungnya, kebutuhan klien menjadi lebih tipis karena laman web dan aplikasi seluler menjadi lebih populer, sehingga metode baru pengembangan aplikasi mulai terbentuk.

Microservice Architecture

Akhir-akhir ini cloud microservice memecah strategi SOA (Service Oriented Architecture) lebih jauh menjadi kumpulan service fungsional yang lebih granular. Koleksi microservices ini digabungkan ke dalam microservice besar, memberikan kemampuan yang lebih untuk melakukan fungsi self-healing dengan cepat di layanan keseluruhan atau aplikasi inducer di dalam suatu aplikasi yang besar.

Sebuah microservice mencoba untuk menangani satu masalah, seperti pencarian data, fungsi logging, atau fungsi layanan web. Pendekatan ini meningkatkan fleksibilitas — misalnya, memperbarui program satu fungsi tanpa harus melakukan reinstallation atau bahkan men-deploy ulang ke Architecture microservice lainnya. Titik-titik kegagalan menjadi independen dan terisolasi satu sama lainnya, sehingga menciptakan Architecture aplikasi yang lebih stabil secara keseluruhan.

Microservices digunakan secara bersamaan dengan Docker Container. Container adalah perantara yang sangat tepat untuk mendeploy Microservices. Container dapat diluncurkan dalam hitungan detik, sehingga dapat diterapkan kembali dengan cepat setelah kegagalan atau migrasi, dan dapat di scale-up dengan cepat untuk memenuhi permintaan.

Container bahkan lebih efisien daripada VM, memungkinkan kode (dan code library yang diperlukan) untuk diterapkan pada sistem Linux apa pun (atau OS apa pun yang mendukung kontainer Docker).  

Karena Container adalah bawaan Linux, perangkat keras komoditas dapat diterapkan ke berbagai microservices di datacenter, private cloud, atau multicloud hybrid.

Apakah keuntungan dari Microservice Architecture?

Microservices memberikan tim Development keleluasaan untuk melakukan pengembangan program kode secara terdistribusi. Masing-masing dari programmer team dapat melakukan pembuatan komputer program secara bersamaan. Ini berarti lebih banyak developer yang mengerjakan aplikasi yang sama, pada waktu yang sama. Yang mana dapat membuat lebih sedikit waktu yang dihabiskan dalam pengembangan.

Lebih cepat menanggapi kebutuhan pasarKarena siklus pengembangan dipersingkat, Architecture microservices mendukung penerapan dan update yang lebih gesit.
Sangat ScalableSaat permintaan untuk service tertentu tumbuh, Anda dapat menerapkan di beberapa server, dan infrastruktur, untuk memenuhi kebutuhan Anda.
HandalService Independent ini jika dibangun dengan benar tidak akan berdampak satu sama lain. Artinya, jika salah satu bagian gagal, seluruh aplikasi tidak akan mati, tidak seperti model aplikasi Monolithic.
AksesibilitasKarena aplikasi yang lebih besar dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, developer dapat lebih mudah memahami, memperbarui, dan menyempurnakan bagian tersebut, menghasilkan siklus pengembangan yang lebih cepat, terutama jika dikombinasikan dengan metodologi pengembangan yang gesit.
Lebih terbukaKarena penggunaan API dan poliglot, pengembang memiliki kebebasan untuk memilih Bahasa pemrograman dan teknologi terbaik untuk fungsi yang diperlukan.