OPENSHIFT VS CLOUD FOUNDRY

Kebingungan dalam menentukan platform yang tepat untuk container? Saat ini terdapat OpenShift dan Cloud Foundry yang memiliki dasar yang sama dengan platform PaaS. OpenShift merupakan sistem yang dikembangkan oleh redhart, sedangkan Cloud Foundry oleh VMWare. Untuk membantu Anda dalam melakukan pemilihan yang tepat, Datacomm Cloud Business akan memberikan perbandingan secara singkat kedua sistem tersebut.

PaaS vs ekosistem Container

OpenShift dan Cloud Foundry muncul ketika para penyedia layanan cloud mulai memberikan layanan berupa cloud infrastructure dan platform or software as a service (PaaS). Keduanya bersifat open source dan berfokus pada teknologi container sebagai wadah untuk menampung aplikasi yang dikembangkan, khususnya yang tergolong PaaS.

Cloud Foundry memiliki cara kerja dengan container dan teknologi container sebagai bagian dari rangkaian sistem yang besar dan kompleks. Cloud Foundry diistilahkan sebagai lingkungan pengembangan, dengan mengacu pada kerangka aplikasi PaaS yang sudah didefinisikan sebelumnya. User dapat melakukan hosting Cloud Foundry pada environment pilihan masing-masing, Cloud Foundry juga memiliki orkestrator sendiri, Diego. Sedangkan OpenShift memiliki GearD sebagai orkestratornya. Kini Openshift tidak lagi tergolong dalam PaaS, namun menggeser OpenSHift menjadi platform umum yang bisa digunakan untuk mengembangkan semua aplikasi berdasarkan container dan Kubernetes.

ARSITEKTUR

Pada level arsitektur, seluruh user yang menggunakan Cloud Foundry dituntut untuk melakukan pengembangan sistem yang sesuai dengan platform yang digunakan. Karena framework dari Cloud Foundry adalah kubernetes, maka pengguna dapat melakukan deployment aplikasi dengan menggunakan Kubernetes. Sedangkan OpenShift digunakan oleh tim developer untuk melakukan deployment aplikasi yang sebelumnya sudah ditulis pada environment masing-masing.

INTEGRASI

Tiap perusahaan belum tentu akan memindahkan seluruh sistem yang digunakan ke cloud, oleh karena itu diperlukan adanya integrase antara aplikasi yang berada di cloud dengan yang berada pada on premise perusahaan. Cloud Foundry mendukung monitoring dan manajemen, hybrid dan multi-cloud, serta service work-flow management. Tetapi seluruh tools tersebut tidak dapat terintegrasi secara otomatis, karena seluruh elemen PaaS bersifat stateless, membutuhkan harmonisasi dengan aplikasi yang dikembangkan dengan kubernetes. Aplikasi yang dikembangkan dalam ekosistem OpenShift cenderung lebih mudah diintegrasikan antar satu sama lain, karena eksositem yang dimiliki mampu “merangkul” hampir semua aplikasi yang ada. Hal itu karena OpenShift merupakan ekosistem Kubernetes, sehingga memampukan untuk dilakukan container deployment, monitoring and management, service discovery and security, dan workflow management.

FRONT-END APP DEVELOPMENT

Tidak jarang perusahaan membuat front-end secara terpisah dari proses pengembangan aplikasi yang dilakukan. Cloud Foundry mengandalkan stateless deployment, dimana stateless merupakan salah satu model terbaik untuk cloud-native application front-end deployment. Virtualisasi infrastruktur dapat mengharmonisasikan pengembangan antara public cloud dengan sumber daya data center, sehingga membuat Cloud Foundry dapat ditempatkan pada hosting environment secara portabel. Sedangkan Openshift tidak memiliki dukungan terhadap front-end cloud development, tetapi tidak membatasi terhadap pilihan user dalam memilih model pengembangan ataupun platform tools.

VENDOR OUTLOOK AND EVOLUTION

Pivotal yang semula sangat mendukung pengembangan Cloud Foundry, kini diakusisi oleh VMware. Sehingga perkembangannya ke depan sangat dipertanyakan, apakah Cloud Foundry akan tergabung dalam vSphere atau tidak. Red Hat yang diakusisi oleh IBM memiliki aplikasi framework popular BlueMix yang juga terdapat Cloud Foundry. Red Hat sendiri merupakan salah satu provider open source terbesar.

Referensi: Search IT Operations